M. Shadows: Mahalnya Biaya Tur Saat Ini

Dalam wawancara terbaru bersama Bradley Hall, M. Shadows membicarakan album-album Avenged Sevenfold, pengalamannya membangun hubungan dengan penggemar Indonesia, naiknya biaya tur saat ini serta alasan mengapa A7X membuka pasar baru.

Di bawah ini adalah kutipan wawancara M. Shadows saat membahas tentang pandangan & serta alasannya soal biaya tur yang naik setelah Covid, serta bagaimana pengalaman A7X membangun hubungan baik dengan penggemar Indonesia:

Apakah biaya turing mengalami kenaikan?

Banyak dari kita yang perhatiannya tertuju ke masalah makin sulitnya artis untuk melakukan touring setelah pandemi COVID dll, terutama untuk band yang masih belum terkenal atau belum setenar itu. Awal tahun ini kebetulan saya sendiri ikut tour sebuah band power metal yang ukurannya lumayan besar dan mereka tergabung di label Nuclear Blast, mereka ikut festival dll.. Jujur saya kaget ternyata margin yang didapat band sangat tipis dan pengeluaran yang dibayar ternyata banyak untuk band ukuran sedang.

Apakah hal tersebut juga berlaku untuk band papan atas seperti A7X? Apakah tour sekarang itu menjadi lebih sulit? Atau apakah anda punya pendekatan lain untuk memecahkan masalah ini?

Shadows: Tidak ada pendekatan lain yang bisa kami lakukan terkait hal tersebut. Masalah touring ini memang hal yang gila. Kalau Anda sudah di level seperti kami, semua orang kru kami adalah A-list (profesional di bidangnya), dan mereka kita tarik kesana kemari, tentu saja mereka mendapat bayaran yang tinggi. Kita butuh lebih banyak bis, supir, bensin, perjalanan.

Semakin besar band, semakin banyak listnya?

Shadows: Ya, kita sudah lihat sendiri banyak band yang membatalkan tour mereka dan kita [mungkin] akan melihat lebih banyak lagi yang akan membatalkan [tur].. Karena saya tau posisi band saya, berapa banyak yang kami hasilkan, jadi saya tau betapa sulitnya untuk menjalankan tour. Kecuali Anda bisa melakukan konser di satu kota di mana kita tidak perlu banyak melakukan perjalanan dan kita bisa melakukan beberapa kali konser di tempat yang sama.

Sebagai contoh, salah satu alasan utama kami melakukan konser ke beberapa negara adalah, kami bisa saja pergi ke negara yang biasa kami kunjungi dan menghasilkan uang sedikit atau tidak sama sekali, atau kita ke negara baru yang belum pernah dikunjungi dan menghasilkan uang sedikit bahkan tidak sama sekali. Jadi keputusan kami, yasudah kita kembangkan lagi nama band ini [memilih tur ke negara baru].

Oke, saya berikan tips terkait industri musik. Dahulu, kami memulai berkarir di Indonesia yang merupakan market terbesar ke-2 kami. Dan sebenarnya mereka adalah pasar terbesar nomor 1 kami saat kami ke sana bulan Mei tahun lalu [2024], pendengar di sana jauh lebih banyak daripada di Amerika. Kami berhasil menjalin hubungan yang istimewa dengan fans di sana. Dulu, ketika kami pergi ke sana, tidak ada orang dari label kami yang perduli atau mau membantu karena CD kami tidak laku, fans kami di sana tidak ada uang untuk membeli CD kami, mereka tidak punya alat putarnya atau tidak ada kebiasaan untuk koleksi musik secara fisik.

Dengan adanya perubahan di mana kita dapat uang melalui streaming service, tips dari kami adalah kita bisa mengembangkan pasar kita di negara dunia ke-3 atau ke-2, intinya negara [yang] secara kebiasaan tidak dapat untuk membeli CD dari webstore.. Pada dasarnya 1 stream di Indonesia itu sama dengan 1 stream di Los Angeles. Semakin kita mengembangkan pasar kita secara global dan bisa masuki pasar yang belum terbiasa dengan musik barat contohnya India, tempat yang kami rasa tidak terjamah dan jauh dari apa yang biasa kami lakukandi Eropa dan Amerika. Kita punya fans di India tapi ya begitu saja, tidak banyak band yang pergi ke sana dan banyak hal yang masih belum tersusun rapi di sana (untuk konser) hal ini mengingatkan saya akan Indonesia 10-15 tahun yang lalu.

Saya percaya kalau kami terus pergi ke negara baru dan membuka pasar baru di sana dan menunjukan eksistensi kami, dan bisa membuat seluruh dunia mendengarkan musik kami via streaming, maka hal itu bisa memperkecil jarak yang dialami oleh label pada tahun 90-an/2000an di mana label tidak peduli dengan tempat-tempat ini karena tidak ada keuntungan datang dari sana.

Kembali lagi ke masalah tour, tour itu hal yang berat untuk band sekarang, bahkan hampir tidak mungkin dilakukan, dan sekarang banyak penurunan penjualan tiket. Banyak yang tidak jadi membeli karena harga tiket mahal, karena [biaya] touring, inflasi dan akumulasi dari semua itu dan membuat banyak orang geram dan saya mengerti akan hal itu. Agak gila memang, harga untuk menonton beberapa band bisa sampai 500-600 dolar,
Kalau artis country sampai 1000 dolar, kalau Taylor Swift bisa sampai 3,200 dolar dsb. Banyak argumen berterbangan, banyak yang tidak mengerti bagaimana proses tiketing berjalan, bagaimana bisnis musik, saling menyalahkan dll, padahal yang sebenarnya terjadi adalah inflasi, biaya tour yang semakin mahal, semakin sulit untuk berpergian, dan kalau kita memikirkan segala aspek terkait kehidupan touring sebuah band maka makin sulit untuk melakukan tour.
Kita juga harus berpikir bagaimana jika tidak ada penghasilan dari penjualan CD yang masuk ke record label, maka akan sulit mendapatkan support dari mereka.

Semua hal tersebut memang sangat mengerikan, makanya kami sangat berhati-hati dalam menentukan apa yang akan kami lakukan.

Deathbat Indonesia

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Deathbat Indonesia

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca

search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close